Makam Tan Malaka


Tan Malaka

Rute Makam Tan Malaka

Tan Malaka adalah pejuang kemerdekaan Indonesia yang lahir pada tahun 1897 di Minangkabau. Beliau adalah tokoh perjuangan yang sangat disegani bahkan oleh Bung Karno, Bung Hatta dan Syahrir. Oleh Mohamad Yamin bahkan beliau disebut sebagai Bapak Republik Indonesia, karena pada tahun 1925 beliau sudah mengarang buku berjudul “Menuju Republik Indonesia” sementara tokoh lain masih berpikir seputar Kemerdekaan Indonesia dan belum menyentuh bentuk pemerintahan.

Tan Malaka dikenal sebagai pejuang revolusioner yang militan, radikal dan menganut paham kiri dengan Partai MURBA bentukannya. Bahkan sebelum membentuk partai MURBA. Beliau juga sempat menjadi ketua PKI (Syarekat Islam Merah) menggantikan Semaoen dan menjadi wakil Komintern (Komunis Internasional). Beliau sangat gigih melawan kolonialis Belanda saat itu.

Tan Malaka diperkirakan gugur pada tahun 1949 di tengah perjuangan “Gerilya Pembela Proklamasi” di Wilayah Kediri Jawa Timur. Menurut sejarah, beliau ditembak TNI dari divisi Brawijaya karena alasan haluan kirinya. Pada Tahun 1963 Presiden Sukarno menetapkan beliau sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Sampai saat ini makam Beliau tidak diketahui rimbanya.

Hingga pada medio September 2009 seorang sejarawan Belanda bernama Harry A. Poeze membongkar sebuah makam di Desa Selopanggung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri yang diduga adalah makam Tan Malaka. Sayangnya sampai dengan saat ini belum diketahui benar apakah itu memang makam Tan Malaka.

Beralih dari soal sejarah, maka kawasan dugaan makam Tan Malaka ini berada di desa yang sangat hijau di lereng Gunung Wilis dengan jalan-jalan berbatu yang sangat menantang. Perjalanan dari Desa Selopanggung langsung dijemput dengan turunan tajam yang berkelok dan melewati sungai yang sangat hijau. Sepanjang perjalanan melalui jalan yang sempit dan berbatu disuguhi dengan pemandangan yang sangat indah berupa tebing dan lembah pegunungan yang hijau.

Bagi goweser sangat disarankan untuk mengecek kondisi rem sebelum melewati jalur ini karena turunannya begitu tajam dan licin bila musim hujan. Juga disarankan memakai ban yang tidak terlalu tipis dengan ukuran 1.5 atau 1.75 atau lebih karena akan melewati jalan makadan bercampur tanah gunung yang liat. Ini merupakan jalur sangat menarik terutama bagi cyclomania yang sering berada di jalur on-road, sebagai selingan yang sangat menyegarkan.

Selamat menikmati bagi semua cyclomania dan selamat jalan bagi Tan Malaka, semoga semangat perjuanganmu tetap menyala di hati bangsa Indonesia.

3 responses to this post.

  1. oke deh, ntar kalo pulang ke Kdeiri moga sempet. mo ke Kelud juga rencana

    Balas

  2. selopanggung sebelah mananya nih?

    Balas

    • Selopanggung naik sedikit ke arah gardu pandang, kira-kira 200-300 meter, kemudian ada jalan kecil beraspal di kanan jalan. Masuk ke gang itu, tapi disitu turunannnya tajam betul dan licin kalau habis hujan. Ikuti saja jalan itu, habis jembatan terus nyampai sawah-sawah di kanan jalan ada makam rimbun pohon yang nggak seberapa kelihatan kalau dari jalan karena posisinya di bawah dan tertutup pohon-pohon. Selamat mencoba.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: